Reportasejakarta.com – Jakarta, Hari ini, Rakerkesnas 2020 secara resmi telah dibuka (19/2). Rakerkesnas kali ini, mengusung tema Promotif preventif membentuk SDM unggul Indonesia maju 2045.

Hadir dalam Rakerkesnas 2020 diantaranya Menko PMK, Mentan, Mendes PDTT, Menag, Kepala BkkbN, Ketua KPU, Sekjen Mendagri, perwakilan Kemdikbud, perwakilan TNI, dan perwakilan komisi IX DPR RI

Dalam kesempatan tersebut, diluncurkan 3 aplikasi yakni Siscobikes, aplikasi keluarga sehat 2.0, serta aplikasi MHealth. Aplikasi tersebut untuk mendukung upaya pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan yang efisien, efektif, dan komprehensif.

Turut diberikan penghargaan sertifikat eliminasi filariasis dan malaria bagi bupati yang berhasil melakukan eliminasi kedua penyakit tersebut.

Sertifikat malaria diberikan kepada daerah yang berhasil melakukan eliminasi selama 3 tahun berturut-turut. Penerima sertifikat tersebut yakni Walikota Sawah Lunto, Bupati Mesuji, Bupati Banyumas dan Bupati Purbalingga.

Sertifikat filariasis diberikan berdasarkan kab/kota yang menunjukkan tidak ada penularan filariasis. Penerima sertifikat tersebut yakni Bupati Jayapura, Bupati Tanjung Jabung Barat, Bupati Luwu Timur dan Walikota Bukittinggi.

Turut diberikan penghargaan atas peran dan kontribusi dalam rangka pemulangan dan observasi WNI Wuhan diantaranya dari Pusat Kesehatan TNI, Pusat Krisis Kesehatan, BTKL Batan, KKP Tanjung Pinang, dan dari Direktorat P2P.

Menkes menegaskan bahwa visi pembangunan kesehatan Kementerian Kesehatan sejalan dengan 4 arahan Presiden Joko Widodo yaitu Stunting, Angka Kematian Ibu dan Bayi, Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, Penguatan Pelayanan Kesehatan serta isu terkait obat dan alat kesehatan.

Upaya menurunkan prevalensi stunting, Kemenkes telah melakukan upaya percepatan dengan Intervensi spesifik & intervensi sensitif. Intervensi spesifik dilakukan oleh Kemenkes sebagai leading sektor bidang kesehatan, sedangkan intervensi sensitif dilakukan lintas sektor dengan melibatkan K/L terkait.

Hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting sebesar 37,2%, kemudian turun menjadi 30,8% di tahun 2018, dan di tahun 2019 turun 3,1 % menjadi 27,67%

“Target kita 0 stunting di 2045, Insya Allah di tahun 2045 kita akan memanen SDM Unggul, saya mendukung penuh program Kemenkes,” – Menko PMK

Terkait dengan Program JKN, Pemerintah berkomitmen penuh menjamin akses pelayanan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu melalui pemberian bantuan iuran program JKN. Dengan program ini diharapkan Cakupan Kesehatan Semesta (UHC) bisa tercapai sepenuhnya.

Karenanya pemerintah bersama masyarakat berkomitmen penuh untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta agar semua orang memiliki akses ke pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan, kapan saja dan dimana saja mereka membutuhkannya tanpa kesulitan finansial.

Cakupan kesehatan semesta turut mencakup berbagai pelayanan kesehatan esensial termasuk pelayanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif. Upaya ini tak hanya akses pelayanan kesehatan namun juga peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga menyiapkan langkah-langkah percepatan untuk mengendalikan harga obat dan alat kesehatan dengan mendorong investasi, mempercepat lisensi wajib obat yang sangat dibutuhkan, membuka peluang investasi sebesar-besarnya dan deregulasi perizinan yang menghambat

Upaya tersebut diharapkan bisa mengendalikan harga obat dan alat kesehatan guna mencapai target kemandirian produksi dalam negeri serta mengurangi ketergantungan terhadap obat dan alkes impor.

Menkes berharap berbagai langkah yang telah disusun tersebut, terus mendapatkan dukungan dan sinergi dari Kementerian/Lembaga guna mempercepat pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan SDM unggul Indonesia maju 2045.

Di sampaikan okeh Menko PMK bahwa kesehatan merupakan modal yang paling dasar. Orang bisa melakukan apapun jika dia sehat, kalau sakit tidak ada artinya. Kaya raya tidak sehat percuma. Pintar tidak sehat percuma. Karenanya nomenklatur kesehatan harus dikedepankan.

“Ingat sehat sebelum datang sakit. Sehat ini mahal, maka jangan cari-cari perkara untuk sakit. Ketika kita sakit ada 2 ongkos yang dibayar peluang yang hilang dan sakit yang butuh biaya,” – Menko PMK

(Red).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *